Analisis tingkat adopsi Building Information Modeling (BIM) dan hambatan penerapannya
Perkembangan teknologi digital dalam industri konstruksi mendorong penerapan Building Information Modeling (BIM) untuk meningkatkan efisiensi, koordinasi, dan produktivitas proyek. Namun, tingkat adopsi BIM pada proyek konstruksi di Kota Surabaya masih belum optimal karena adanya berbagai hambatan dari aspek teknis, biaya, sumber daya manusia, organisasi, dan pemahaman pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat adopsi BIM serta mengidentifikasi faktor-faktor penghambat penerapan BIM pada pekerja konstruksi yang berasal perusahaan kontraktor dan konsultan di Kota Surabaya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada 98 responden yang berasal dari 26 kontraktor dan 5 konsultan yang terlibat dalam proyek konstruksi. Data dianalisis menggunakan uji validitas, uji reliabilitas, KMO dan Bartlett’s Test, serta Principal Component Analysis (PCA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan BIM masih didominasi pada Level 0 sebesar 45% dan Level 1 sebesar 33%, dengan pemodelan paling banyak digunakan pada dimensi 3D sebesar 45% dan 4D sebesar 35%. Software BIM yang paling banyak digunakan adalah Autodesk Revit sebesar 85,7%. Hasil PCA menghasilkan tiga faktor utama penghambat, yaitu faktor teknis dan implementasi BIM, faktor biaya, sumber daya dan kapasitas organisasi, serta faktor pengetahuan dan pemahaman BIM. Penelitian ini bermanfaat sebagai dasar evaluasi dan strategi peningkatan penerapan BIM pada industri konstruksi di Surabaya.