Galeri demokrasi di Surabaya
Perancangan Galeri Demokrasi di Surabaya merespons menyusutnya esensi ruang publik kota sebagai panggung demokrasi. Realitas kontemporer menunjukkan paradoks: masyarakat terkoneksi digital secara masif namun terputus secara sosial, serta mereduksi demokrasi sebatas ritual prosedural lima tahunan. Di sisi lain, arsitektur representasi politik konvensional dinilai eksklusif dan intimidatif. Perancangan ini bertujuan mewujudkan "ruang ketiga" publik yang netral, aman, dan non-komersial guna memitigasi polarisasi serta meningkatkan literasi demokrasi warga. Menggunakan metode RtD (Research through Design) dengan pendekatan arsitektur simbolik concept-based framework, proyek ini mengintegrasikan bangunan cagar budaya dengan bangunan baru melalui konsep "Dialog Dualitas Spasial". Konsep ini diejawantahkan ke dalam empat pilar: entitas-aktivitas, sirkulasi linear-bebas, dialog masa lalu-masa depan, dan kebebasan dalam keteraturan. Kompleks ini mewadahi fasilitas galeri utama yang pasif-linear, activity lab untuk literasi, dialektika, dan ekonomi rakyat, serta amphitheater terbuka. Desain ini telah mengartikulasikan nilai abstrak sosiopolitik ke dalam relasi spasial yang adaptif. Hasil rancangan tidak hanya menyediakan wadah dialektika fisik bagi bertemunya keberagaman gagasan lintas komunitas, akademisi, dan warga, tetapi juga menggeser paradigma politik menuju dimensi keseharian (everydayness). Proyek ini memperkenalkan model civic architecture kontemporer yang memperkuat identitas Surabaya sebagai kota pembelajaran yang inklusif.