Penerapan konsep self-determination, motivation orientation, dan siklus learning-unlearning-relearning, dalam pembentukan perilaku inovatif berkelanjutan pada tenaga penjualan di toko swalayan Indonesia
Salah satu jenis bauran promosi yang sering digunakan di toko swalayan adalah strategi personal selling melalui penempatan tenaga penjualan. Saat ini penempatan tenaga penjualan mendapatkan tantangan berupa pertanyaan terkait efektivitasnya. Selain pertimbangan biaya, perkembangan teknologi alternatif juga merupakan faktor penyebab munculnya pertanyaan tersebut. Namun sejumlah penelitian juga menunjukkan bahwa manusia tetap memiliki keunggulan dibandingkan teknologi, yaitu kecerdasan kontekstual dan empati yang tinggi. Pertimbangan antara kecanggihan teknologi dan keunggulan manusia tersebut mendorong pemikiran baru untuk menggabungkan kelebihan dari keduanya. Sejumlah penelitian juga menemukan bahwa melalui adopsi teknologi yang tepat, manajemen akan mampu mendorong perilaku inovatif pada tenaga penjualan. Meskipun demikian, terdapat permasalahan bahwa tidak semua tenaga penjualan mampu menunjukkan perilaku inovatif secara berkelanjutan. Berdasarkan kesenjangan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menggali berbagai faktor yang mampu mendorong terbentuknya perilaku inovatif berkelanjutan dari tenaga penjualan. Penelitian ini meneliti hubungan dari variabel keamanan psikologis, akuntabilitas proses, orientasi gerak, orientasi penilaian, literasi digital, keraguan pengetahuan, dan perilaku inovatif dalam konteks tenaga penjualan. Pada penelitian ini, terdapat dua variabel independen, yaitu keamanan psikologis dan akuntabilitas proses. Sementara itu, variabel dependen dari penelitian ini adalah perilaku inovatif dalam diri tenaga penjualan, yang dimediasi oleh keraguan pengetahuan serta dua orientasi motivasi, yaitu orientasi gerak dan orientasi penilaian. Selanjutnya, penelitian ini juga memasukkan literasi digital sebagai variabel moderasi. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif eksplanatif, yang meneliti hubungan kausalitas antar variabel penelitian dengan menguji setiap hipotesis yang telah dirumuskan melalui analisa data numerik berdasarkan teknik statistik. Survei pada penelitian ini dilakukan terhadap 289 tenaga penjualan yang bekerja di toko swalayan Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keamanan psikologis dan akuntabilitas proses berpengaruh secara tidak langsung terhadap pembentukan perilaku inovatif, dengan orientasi penilaian dan keraguan pengetahuan yang memberikan pengaruh mediasi simultan. Selain pengaruh tidak langsung, hasil penelitian juga menemukan adanya pengaruh langsung dari keamanan psikologis terhadap perilaku inovatif. Temuan penelitian lain juga menunjukkan bahwa ternyata literasi digital bukanlah variabel moderasi terhadap hubungan antara dua variabel orientasi motivasi dengan keraguan pengetahuan. Dengan demikian, penelitian ini telah membuktikan bahwa keamanan psikologis dan akuntabilitas proses merupakan dua variabel yang berperan sebagai stimulus dalam mendorong perilaku inovatif berkelanjutan pada tenaga penjualan, berdasarkan konsep siklus learning-unlearning-relearning.