Pemanfaatan limbah Reclaimed Asphalt Pavement (RAP) dan Recycled Concrete Aggregate (RCA) dengan penambahan abu terbang pada campuran aspal emulsi bergradasi rapat
Konstruksi perkerasan jalan memerlukan penggunaan agregat baru yang besar, yang mengakibatkan pengurangan sumber daya alam dan akumulasi limbah. Adapun tantangan dari penelitian ini adalah aktivitas konstruksi jalan mengonsumsi agregat alam secara masif hingga melampaui 40 miliar ton per tahun. Akibatnya, diperlukan bahan pengganti daur ulang yang lebih berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan membandingkan kinerja campuran aspal emulsi agregat alam dengan agregat daur ulang 50% RAP dan 50% RCA, mengevaluasi efektivitas abu kayu sebagai substitusi semen Portland, serta menganalisis pengaruh durasi curing 3 dan 7 hari terhadap parameter Marshall. Pada penelitian ini menggunakan metode Marshall untuk membandingkan karakteristik campuran kontrol 100% agregat alam dan 2% semen terhadap campuran daur ulang 50% RAP dan 50% RCA, dengan variasi abu kayu 4% dan 6%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa durasi curing berpengaruh signifikan terhadap peningkatan stabilitas dan kekakuan campuran pada Campuran Aspal Emulsi Bergradasi Rapat (CAEBR) tipe IV. Pemanfaatan material penggunaan 50%RAP dan 50% RCA dengan aspal emulsi CSS-1h persentase 7% dan aditif kadar abu kayu 4% ditetapkan sebagai komposisi substitusi limbah yang paling optimal. Hasil pada kadar 6% ini sangat tidak direkomendasikan karena Partikel halusnya menyumbat rongga antar batuan secara ekstrem, sehingga mengakibatkan nilai VIM dan VMA pada umur 7 hari turun drastis di bawah batas minimum persyaratan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah 50% RAP dan 50% RCA mampu memenuhi parameter Marshall agregat konvensional dari seluruh parameter Marshall dengan penambahan 4% abu kayu selama proses curing 3 hari dan 7 hari.