Pemanfaatan agregat beton daur ulang dan abu sekam padi dalam lapis pondasi agregat semen sebagai lapis pondasi perkerasan lentur
Jalan merupakan salah satu infrastruktur yang digunakan sebagai alat untuk mobilitas sehari-hari dan dapat mendukung kegiatan perekonomian. Namun, Pembangunan jalan di Indonesia masih menggunakan material konvensional yang merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui serta proses produksinya yang dapat mencemari lingkungan. Produksi semen konvensional menimbulkan beberapa limbah yang dapat mencemari lingkungan, antara lain: sulfur dioksida, nitrogen oksida, karbon monoksida , debu pabrik, serta memproduksi gas yang dapat menghasilkan hidrokarbon yang menyebabkan efek rumah kaca dan perubahan iklim. Penambangan material agregat alami juga memiliki dampak yang negatif bila dilakukan terus-menerus, dampak yang di timbulkan antara lain: kerusakan ekosistem, pencemaran air, pencemaran udara, erosi, abrasi, dan lain-lain. Oleh karena itu, perlu adanya material alternatif sebagai pengganti material konvensional yang ramah lingkungan dan banyak dijumpai di lingkungan masyarakat. Pada penelitian ini, akan dibahas penggunaan limbah beton (Recycled concrete aggregate/RCA) dan ABU Sekam Padi (ASP) sebagai pengganti material konvensional. Penelitian ini memiliki tujuan untuk Mengetahui performa RCA dan ASP sebagai bahan substitusi material konvensional dalam proses pembuatan CTB (Cement Treated Base) dan Mengetahui presentase optimum penggunaan RCA dan ASP sebagai bahan substitusi material konvensional dalam proses pembuatan CTB. Dalam penelitian ini akan diuji 45 sampel CTB dengan komposisi yang berbeda-beda agar tujuan dari penelitian ini dapat tercapai, bentuk pengujian sampel CTB berupa uji kuat tekan sesuai dengan SNI 1974:2011. Campuran material 50% agregat alami + 50% RCA dan penggunaan Semen + ASP sebanyak 5% dengan komposisi 75% Semen dan 25% ASP diprediksi merupakan campuran yang memiliki performa terbaik bila dinilai dari kuat tekannya. Dengan kuat tekan sebesar 101,972 Kg/cm2 maka campuran CTB ini jauh melampaui spesifikasi minimal yang tertulis pada spesifikasi umum 2018 untuk perkerasan jalan dan jembatan yaitu sebesar 55 Kg/cm2.