Fasilitas hunian lansia di Sanur, Bali
Indonesia sedang memasuki fenomena Aging Population, di mana persentase penduduk lansia terus meningkat. Diperkirakan pada tahun 2035 jumlah lansia akan menjadi 48,2 juta jiwa (15,77%). Pertambahan usia pada manusia mendatangkan rasa kesepian yang disebabkan perubahan sosial dalam kehidupan di masa lanjut. Keterbatasan mobilitas yang menyebabkan lansia susah untuk melalukan aktivitas sosial juga mendorong lansia untuk mengisolasi diri. Padahal, aktivitas fisik dan interaksi sosial merupakan hal penting dalam menjaga kesehatan mental maupun fisik lansia. Karena itu, dibutuhkan adanya perancangan hunian lansia yang mampu mewadahi kebutuhan lansia dengan baik, mendukung terciptanya interaksi sosial di kalangan lansia maupun dengan masyarakat luar, menjaga kesehatan lansia baik secara mental, psikis, dan fisik, dan meningkatkan kesejahteraan di usia lanjut. Perancangan Hunian Lansia di Sanur, Bali ini menggunakan pendekatan perilaku dan behavior-based placemaking untuk memenuhi kebutuhan dari lansia baik dari segi fisik maupun mental dan interaksi sosial, yang dikembangkan menjadi konsep “Everlasting Vacation : Community-Centered Senior Living”. Konsep ini mendukung keberlanjutan dari kehidupan sosial lansia dengan mendorong terbentuknya komunitas-komunitas. Proyek perancangan ini menggunakan metode berupa kajian pustaka, studi preseden, dan observasi tapak. Hasil dari perancangan merupakan rancangan hunian lansia yang dibentuk secara multimassa dengan menerapkan metode “Pocket Neighborhood”. Penataan multimassa juga mengikuti adat tradisional rumah Bali, membagi hunian lansia ini menjadi area publik, area lansia, hunian, dan taman-taman.