Pasar dan fasilitas edukasi gizi di Samarinda
Fenomena beban gizi ganda di Indonesia menunjukkan terjadinya kekurangan dan kelebihan gizi secara bersamaan dalam satu populasi. Kota Samarinda menjadi salah satu wilayah yang menghadapi kondisi tersebut. Fenomena ini ditandai oleh tingginya prevalensi stunting dan overweight pada anak, rendahnya konsumsi buah dan sayur, serta meningkatnya konsumsi pangan instan. Di sisi lain, pasar sebagai penyedia utama pangan segar belum mampu berperan optimal akibat kualitas ruang yang kurang nyaman dan minimnya fasilitas edukatif. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan arsitektur yang tidak hanya mendukung aktivitas perdagangan, tetapi juga membentuk lingkungan yang mendorong perilaku konsumsi pangan yang lebih sehat. Oleh karena itu, perancangan ini bertujuan menghadirkan pasar dan fasilitas edukasi gizi di Samarinda melalui integrasi fungsi perdagangan, pembelajaran, dan interaksi sosial dalam satu kesatuan ruang. Perancangan menggunakan pendekatan arsitektur bioklimatik dengan metode studi literatur serta analisis tapak dan iklim sebagai dasar perumusan strategi desain. Pendekatan tersebut diterjemahkan ke dalam konsep climate-responsive learning market, yang mengoptimalkan pencahayaan alami, ventilasi silang, pengendalian radiasi matahari, dan pengaturan massa bangunan sesuai karakteristik iklim tropis lembap. Hasil perancangan berupa fasilitas publik yang mengintegrasikan pasar, workshop edukasi gizi, area kuliner, dan lanskap produktif sehingga menciptakan lingkungan pasar yang nyaman, adaptif terhadap iklim, serta mendukung proses belajar mengenai pangan sehat melalui pengalaman ruang dan aktivitas sehari-hari. Integrasi fungsi perdagangan dan edukasi memungkinkan masyarakat memperoleh akses terhadap pangan segar sekaligus membangun kebiasaan konsumsi yang lebih sehat melalui pengalaman ruang dan aktivitas sehari-hari.