Perubahan besar dalam gaya hidup dan budaya kerja pasca-pandemi telah memengaruhi cara orang bekerja dan berinteraksi di ruang publik, terutama di era next normal yang ditandai dengan meningkatnya adopsi Post-Pandemic Work Culture dan Hybrid Living (Huang, 2023). Hal ini mendorong kebutuhan akan ruang produktif di luar rumah dan kantor, menjadikan kafe sebagai third place yang penting untuk bekerja, bersosialisasi, dan bersantai (Sharma, 2022). Tren perkembangan kafe di Bojonegoro terus meningkat sejak 2017, sejalan dengan pertumbuhan sosial ekonomi kota (Widianto & Ristanto, 2023). Namun, Kafe TUMAN yang dulunya populer mengalami penurunan akibat keluhan kebersihan dan branding yang ketinggalan zaman. Dengan semakin besarnya kebutuhan akan ruang hybrid yang fleksibel, kafe TUMAN memiliki peluang untuk kembali relevan melalui penerapan konsep hybrid space. Konsep ini memadukan fungsi workspace, eatery, dan kafe untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan third place yang nyaman, sekaligus memperkuat identitas kafe ini melalui re-desain interior yang mendukung fleksibilitas dan produktivitas pengunjung (Robinson & Tan, 2022). Metode yang digunakan adalah Design thingking, dengan menggunakan 9 tahap yaitu understand,observe, point of view, ideate , prototype, test, pilot, business model canvas, story telling. Jurnal ini berfokus pada perancangan ulang ruang Kafe TUMAN yang menjawab kebutuhan masyarakat dan meningkatkan daya saing di Bojonegoro. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan interior branding untuk meningkatkan pengalaman pengguna , sekaligus brand image kafe TUMAN, selain itu juga untuk menciptakan desain interior yang mampu mengintegrasikan fungsi kafe sebagai ruang santai dan produktif secara harmonis, sehingga dapat memenuhi kebutuhan pengunjung dengan beragam aktivitas.