Masker menjadi salah satu limbah medis terbanyak selama pandemi. Agar limbah medis tersebut tak mencemari lingkungan, mahasiswa Universitas Kristen Petra (UK Petra) mengolahnya menjadi barang yang memiliki daya tarik dan nilai jual lebih. Yakni, diolah menjadi furnitur rumah seperti lampu hias dan stool alias kursi. Ide tersebut bermula ketika Olivia Tantiono, mahasiswa UK Petra itu, melihat sampah masker yang menumpuk di rumahnya setiap hari. Menurut dia, orang setidaknya
mengganti masker dua kali setiap hari atau setiap empat jam. Dia pun terinspirasi mendaur ulang sampah itu. ’’Bisa dibayang kan ada berapa limbah masker untuk satu orang,’’ terangnya kemarin (14/9). Waktu yang dibutuhkan tidak singkat. Dia mem butuhkan trial and error kurang lebih sampai 20 kali hingga berhasil. Menurut Olivia, hampir semua bagian masker bisa didaur
ulang, kecuali kawat dan tali. Prosesnya, masker yang telah dikumpulkan dicuci dengan cairan disinfektan sesuai pedoman Kementerian Kesehatan (Kemkes). Tujuannya, masker bekas itu higienis dan tak ada virus. ’’Saya juga pastikan pengguna maskernya sehat,’’ ucapnya.