Pasar Barongan Mojotrisno Jombang hidupkan kembali nuansa masa lalu

Pagi itu Dusun Sanan Timur sedang menggeliat. Dusun ini benar-benar bersolek. Di pintu masuk desa ada gapura dari anyaman bambu yang dihias sedemikiam rupa. Anak-anak muda sibuk mengatur tempat parkir untuk pengunjung. Kendaraan yang hendak masuk ke Pasar Barongan diminta berhenti, lalu ditata rapi. Memasuki pasar, pengunjung diharuskan membeli potongan bambu sepanjang jari. Sepotong bambu harganya Rp2 ribu. Nah, bambu itulah yang digunakan untuk alat pembayaran ketika membeli di Pasar Barongan. Darminto tengah menikmati segelas kopi rempah. Aroma kopi itu khas. Karena bercampur dengan kapulaga, jahe, kayu manis, serta gula merah. Darmito menyesap
kopi itu hingga tandas, lalu menyerahkan tiga potongan bambu kepada penjualnya sebagai alat pembayaran. “Rasa rempahnya sangat terasa. Nikmat sekali,” ujar Darminto yang merupakan anggota Komunitas Batik Jawa Timur. Yang tidak kalah sibuk dalam grand opening Pasar Barongan adalah Nusa Amin, warga setempat. Amin juga mengenakan seragam tradisional. Memakai blangkon dan bawahan batik alam. Amin menjelaskan, munculnya inisiasi Pasar Barongan adalah dari pihaknya dengan UK Petra Surabaya. Gayung pun bersambut. Inisiasi tersebut mendapatkan dukungan dari pemerintah desa. Apalagi di Dusun Sanan Timur kaya dengan pohon bambu. Rimbunan bambu tersebut tumbuh subur di sepanjang Sungai Gunting. Makanya, lokasi itulah yang dipilih menjadi Pasar Barongan.

Unknown Unknown Indopos Intermedia Press Indonesian Petra Chronicle Newspaper clippings Unknown mediaindopos.com, 06 Agustus 2022 COLLEGE TEACHERS; UNIVERSITAS KRISTEN PETRA--STUDENTS--PUBLIC SERVICES; BAMBOO WORK

Files