Penelitian ini mengkaji representasi peran perempuan generasi Z dalam film Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis dengan pendekatan semiotika Roland Barthes. Film ini dipilih karena menggambarkan dinamika kekuasaan dalam keluarga patriarkal dan perjuangan perempuan muda dalam menghadapi trauma kekerasan rumah tangga. Latar belakang penelitian berangkat dari kondisi sosial yang masih membatasi perempuan melalui stereotip dan nilai patriarkal, meski secara statistik partisipasi perempuan, khususnya di sektor informal, semakin tinggi. Dalam konteks ini, generasi Z yang tumbuh dalam era digital dan lebih terbuka terhadap isu kesetaraan merepresentasikan pergeseran nilai dalam memaknai peran gender. Urgensi penelitian terletak pada pentingnya representasi perempuan dalam media, terutama film, sebagai medium strategis dalam membentuk pemahaman publik terhadap isu-isu perempuan. Dalam film ini, karakter Tari digambarkan sebagai perempuan muda yang tidak hanya menghadapi tekanan keluarga, tetapi juga menjadi tulang punggung keluarga, serta berani mengekspresikan luka batinnya melalui support group. Menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teori semiotika Roland Barthes, untuk mengurai makna denotatif, konotatif, dan mitos dari adegan-adegan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film menampilkan perempuan bukan sebagai sosok lemah, melainkan sebagai individu yang rentan namun berani mencari bantuan, melawan dominasi patriarki, dan tetap menjaga nilai kekeluargaan. Representasi ini menantang citra perempuan ideal yang pasif dan menunjukkan bahwa kekuatan juga hadir dari keberanian menunjukkan emosi dan memperjuangkan kesehatan mental. Film ini menjadi ruang artikulasi baru bagi suara perempuan muda dalam melawan ketimpangan gender secara simbolik dan naratif.