Veronica Boni Pamudja, Mahasiswa Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK) UK Petra memanfaatkan limbah ampas kopi menjadi pewarna alami tekstil. Bahkan, olahan limbah tersebut mampu menghasilkan 54 warna tersier yang diaplikasikan di atas kain. Boni mengungkapkan, ide itu muncul dari semakin maraknya keberadaan kedai-kedai kopi yang secara otomatis, akan berdampak pada meningkatnya hasil limbah ampas kopi.“Kalau di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampai terjadi penumpukan limbah ampas kopi, itu akan berakibat buruk terhadap kondisi tanah. Jadinya semakin asam. Selain itu kandungan gas metana yang ada di dalamnya bisa menyebabkan pemanasan global,” kata Boni pada suara surabaya.net, Rabu (13/7/2022). Oleh karena itu, Boni memilih menyulap limbah ampas kopi menjadi bahan pewarna
alami, dengan memanfaatkan secang dan kunyit untuk campurannya. “Jadi ada tiga jenis pewarna yang saya pakai. Ampas kopi saja, ampas kopi campur secang, dan ampas kopi campur kunyit,” jelasnya.