Politik estetika dan solidaritas untuk Wadas

Dunia maya heboh saat ada pemberitaan seorang seniman bernama Yayak Yatmaka ditangkap polisi bersama enam puluhan warga Wadas, Purworejo, Jawa Tengah. Sontak hastag "Bebaskan Yayak dan warga Wadas" berkumandang di status-status media sosial. Saat itu ratusan aparat keamanan telah menyerbu Desa Wada yang beberapa hari terakhir ini menjadi isu berita nasional. Warga Wadas yang menolak tanahnya dialihfungsikan menjadi proyek strategis nasional melawan. Beberapa hari kemudian dibebaskan. Penangkapan seniman yang menyatu dengan perlawanan warga yang menolak tanahnya diambil negara sejatinya sering terjadi di era Orde Baru. Era yang tercatat sebagai masa kegelapan bagi gerakan prodemokrasi dan seniman. Seniman kerap menuaarakan ekspresi seninya berdasar kegelisahan. Suaranya melalui karya seni dianggap sebagai senjata yang berbahaya. Yayak Yatmaka adalah satu diantara sekian seniman yang memutuskan berada ditengah-tengah warga yang tepinggirkan dan tertindas dimasa Orde Baru. Saat seniman bersolidaritas pada warga maupun pada peristiwa yang melibatkan konflik agraria antara rakyat dan negara, Jacques Ranciere (2001) telah lama berbicara tentang emansipasi dan kesetaraan.Hal ini disebutnya politik estetika.

Unknown Unknown PT Jawa Pos Koran Indonesian Petra Chronicle Newspaper clippings Unknown Jawa Pos, 05 Maret 2022 COLLEGE TEACHERS; UNIVERSITAS KRISTEN PETRA; ART AND POLITICS

Files