Di tengah percepatan transformasi Industri 4.0, integrasi teknologi digital seperti Augmented Reality (AR) di sektor konstruksi Indonesia masih terhambat oleh tantangan signifikan terkait justifikasi biaya investasi dan kesiapan teknis di lapangan. Penelitian ini bertujuan untuk menginvestigasi disparitas persepsi berdasarkan karakteristik proyek dan profil teknologi, serta memetakan pandangan praktisi mengenai nilai fungsional, manfaat strategis, dan hambatan utama adopsi AR. Menggunakan pendekatan kuantitatif, data dikumpulkan dari 108 praktisi konstruksi Indonesia yang didominasi pengguna Building Information Modeling (BIM) dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Analisis komparatif menyoroti temuan krusial berupa tingkat skeptisme yang signifikan pada praktisi pekerjaan tanah dibandingkan praktisi bangunan gedung, yang mengindikasikan bahwa urgensi AR sangat bergantung pada kompleksitas vertikal proyek. Selain itu, teridentifikasi fenomena "ekspektasi idealis" di mana kelompok non-pengguna BIM memiliki persepsi yang jauh lebih optimis dibandingkan pengguna BIM yang cenderung realistis. Secara umum, fungsi visualisasi desain in-situ paling diharapkan guna memitigasi kesalahan interpretasi spasial, namun adopsi masih terkendala tingginya investasi awal dan ketidakpastian Return on Investment (ROI). Studi ini menyimpulkan bahwa penerimaan AR tidak bersifat universal, melainkan sangat dipengaruhi oleh relevansi teknis spesifik di lapangan dan tingkat pemahaman terhadap alur kerja digital perusahaan.