Karya kreatif ini menyajikan naskah film tentang ketidaksetaraan gender di tempat kerja di Indonesia. Naskah ini mengisahkan Arya yang secara ajaib berubah menjadi perempuan dan mendapat diskriminasi di tempat kerjanya berupa jam kerja yang tidak wajar, pelecehan, dan favoritisme sementara ia harus tetap bekerja demi membayar utang ayahnya sebesar 120 juta. Karya kreatif ini menggunakan drama sebagai genre utama yang berfokus pada pengembangan karakter, tema emosional, dan konflik yang mencerminkan perjuangan kehidupan nyata. Karya tulis ini mengeksplorasi permasalahan bagaimana ketidaksetaraan gender di kantor mempengaruhi Arya sebagai pekerja perempuan dan bagaimana Arya mencari keadilan untuk dirinya sendiri dan rekan-rekan kerjanya. Teori yang diterapkan untuk menjawab permasalahan tersebut adalah teori dari Joan Acker (1990) mengenai organisasi berdasarkan gender dan sousveillance dari Steven Mann (2003). Dalam karya kreatif ini, penulis menemukan penyebab terjadinya ketidaksetaraan gender di tempat kerja disebabkan oleh struktur organisasi berbasis gender yang tidak netral dan mereproduksi relasi kuasa timpang dan menormalisasi pekerja ideal maskulin. Sebagai bentuk perlawanan, karya ini menggunakan media sosial untuk menantang otoritas institusional. Dengan menunjukkan perlawanan Arya terhadap ketidakadilan, naskah ini diharapkan mampu memberikan kontribusi dalam meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai dampak ketidaksetaraan gender di tempat kerja yang dialami oleh perempuan.