Perancangan interior kafe tidak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan estetika, tetapi juga harus mampu mengakomodasi fungsi sosial dan kenyamanan pengguna. Penelitian ini membahas proses perancangan interior sebuah kafe dengan pendekatan gaya desain Mid-Century Modern, yang dipilih karena karakteristiknya yang sederhana, hangat, dan fungsional—sesuai dengan kebutuhan ruang interaktif dan inklusif bagi pengunjung. Metode yang digunakan dalam proses perancangan ini adalah Design Thinking, yang terdiri dari lima tahap: empathize, define, ideate, prototype, dan test. Melalui pendekatan ini, perancangan dilakukan secara partisipatif dengan mempertimbangkan kebutuhan pengguna, pengamatan perilaku pengunjung, serta tantangan fungsional yang ada di lokasi eksisting. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pengaplikasian gaya Mid-Century Modern mampu menciptakan atmosfer ruang yang nyaman, terbuka, dan estetis, sekaligus mendukung fleksibilitas aktivitas kafe seperti bersantai, bekerja, hingga aktivitas komunitas. Metode Design Thinking terbukti efektif dalam merumuskan solusi desain yang human-centered dan kontekstual, serta meningkatkan kualitas pengalaman ruang bagi pengguna. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam penerapan gaya desain yang relevan dengan kebutuhan fungsi sosial dan estetika dalam konteks ruang komersial seperti kafe.