Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas gaya kepemimpinan berbasis rasa takut (fear-based leadership) terhadap kepuasan dan kinerja karyawan dalam konteks organisasi di Indonesia. Masalah yang diangkat berangkat dari ambiguitas makna istilah fear yang sering diasosiasikan secara negatif, padahal dalam praktiknya memiliki spektrum makna yang lebih luas. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga narasumber dari latar belakang ahli bahasa, psikologi, dan praktisi bisnis. Data yang diperoleh dianalisis secara kritikal melalui tahapan deskripsi, interpretasi, evaluasi, dan sintesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fear-based leadership dapat berdampak secara berbeda tergantung pada konteks, intensi pemimpin, dan persepsi bawahan. Ketakutan yang bersifat proporsional dapat mendorong disiplin dan performa, sementara ketakutan yang bersifat intimidatif cenderung menimbulkan dampak psikologis negatif dan menurunkan kepuasan kerja. Penelitian ini merekomendasikan perlunya redefinisi makna fear-based leadership agar lebih kontekstual dan tidak bias secara linguistik maupun psikologis.