Satu mahasiswi Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra Surabaya berhasil merancang wadah terapi untuk penderita down’s syndrome/syndrome mongoloid berupa desain bangunan menerapkan konsep tiga jenis rangsangan/stimulation. Penderita syndrome mongoloid cenderung memiliki keterlambatan pada hubungan sosial, motorik serta kognitif, maka membutuhkan tempat pendidikan memadai yang dapat merangsang kemampuan fisik, intelektual serta mental. Desain itu dijelaskan secara rinci melalui skripsi Margaretha yang berjudul Di manakah Tempat Tumbuh Kembang bagi Anak Down’s Syndrome?