Pemerintah dan Ormas radikal

Setelah negara dibuat bulan-bulanan oleh ormas garis keras, dipenghujung tahun 2016, gelombang bentrok antar ormas FPI versus GMBI (Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia) kembali bergelora. Saling klaim ormas radikal versus non radikal, seakan menepikan peran sentral negara selaku pembina ormas. Ketika ormas yang satu menyalak keras, ternyata direspon tidak kalah kerasnya dengan ormas yang lain. Ujungnya terjadi keributan, pertikaian dan konflik horisontal yang sulit dicegah. Fasilitas publik seolah wilayah tak bertuan yang sesukanya dijadikan arena unjuk unggul. Bahkan demi melampiaskan libido protes, mereka tidak segan bertindak anarkis, intoleran dan tidak jelas sesungguhnya berpihak kepada siapa. Sejauh yang bisa dilakukan oleh negara, agar gerakan-gerakan radikal atau fundamentalisme tersebut turun tensinya adalah mengelaborasi, faktor-faktor penyebab lahirnya gerakan seperti ini. Dioamika yang sangat progresif dalam pengelolaan dan aktivitas ormas di luar organisasi gereja mesti disikapi secara bijak. Bila radikalisasi sebagai sebuah gerakan sudah sedemikian berkembang begitu rupa di luar agama Kristen, gereja mestinya jangan tinggal diam. Gereja sebagai sebuah institusi keumatan, juga harus terus menerus diingatkan agar umat Kristiani tetap waspada terhadap tipu muslihat si jahat dengan kedok beragam kesalehan yang dipertontonkan.

Unknown Unknown Mitra Indonesia Indonesian Petra Chronicle Newspaper clippings Unknown Mitra Indonesia, 9 Februari 2017 SOCIAL CONFLICT--INDONESIA; RADICALISM--RELIGIOUS ASPECTS

Files