Perancangan busana avant-garde ini bertujuan sebagai media komunikasi visual, salah satu bentuk mengekspresikan diri untuk menyampaikan emosi manusia yang tersembunyi, terutama yang berkaitan dengan isu kesehatan mental. Di tengah era modern dan dominasi media sosial, banyak individu terlihat kuat secara fisik namun menyimpan tekanan emosional yang tidak terungkap. Melalui pendekatan desain avant-garde, rancangan ini berfokus pada bagaimana elemen-elemen dari fashion seperti warna, bentuk, tekstur dapat menjadi representasi dari gejala-gejala depresi. Metode yang digunakan adalah Design Thinking, yang meliputi tahapan empathize, define, ideate, prototype, dan test. Menggunakan teori petanda dan penanda oleh Roland Barthes, di mana fashion dipahami sebagai sistem tanda yang dapat mengkomunikasikan makna dan teori fashion sebagai media komunikasi oleh Malcolm Barnard. Target utama dari perancangan ini adalah show business industry, atau khususnya fashion stylist dan media editorial. Hasil perancangan berupa tiga busana avant-garde yang memvisualisasikan tahapan perasaan dalam depresi dengan penerapan teknik fabric manipulation dan patchwork.