Museum wayang Potehi di Kembang Jepun, Surabaya

Kawasan Pecinan, Kembang Jepun, Surabaya menyimpan jejak sejarah dan warisan budaya yang saat ini seperti kehilangan identitasnya. Hal ini dapat dilihat dari karakter visual bangunan sepanjang koridor Kembang Jepun sudah tidak menunjukkan karakter Arsitektur Tionghoa maupun asimilasinya. Salah satu seni budaya yang tersisa di kawasan ini adalah pertunjukan Wayang Potehi yang bersifat sakral di Kelenteng Hong Tiek Hian yang terletak di jalan Dukuh yang tidak terlihat dari ruas jalan Kembang Jepun sendiri. Kesenian wayang khas Tionghoa ini memiliki potensi untuk dilestarikan, sekaligus untuk menghidupkan kembali spirit of place Kembang Jepun. Berdasarkan permasalahan tersebut, dirancang Museum Wayang Potehi di Kembang Jepun, Surabaya sebagai pusat pelestarian, edukasi, dan menghidupkan budaya peranakan Tionghoa. Pendekatan desain yang dipakai dalam perancangan museum ini adalah pendekatan multisensori untuk membangkitkan memori, menciptakan pengalaman imersif yang mendalam dalam mengundang pengunjung untuk menjelajahi dunia magis Wayang Potehi. Metode yang digunakan meliputi observasi lapangan untuk memahami konteks sejarah dan sosial budaya Kembang Jepun serta mengidentifikasi elemen-elemen visual dan aural yang khas, dokumentasi untuk mengumpulkan data visual dan teks tentang Wayang Potehi dan lingkungan sekitarnya, wawancara dengan narasumber ahli untuk menggali pengetahuan mendalam tentang sejarah, teknik pembuatan wayang Potehi, dan Pecinan di Kembang Jepun, dan studi pustaka untuk merumuskan strategi dalam mendesain museum yang efektif dan kontekstual. Selain itu diputuskan untuk mengambil satu blok di pertemuan Jalan Kembang Jepun dan Jalan Dukuh di mana Klenteng Hong Tiek Hian berada sebagai site perancangan untuk memperkuat posisi klenteng tersebut menjadi Landmark utama yang menghidupkan kembali spirit of place pecinan. Museum ini diharapkan menjadi magnet wisata baru yang tidak hanya menyajikan koleksi artefak, tetapi juga memanfaatkan teknologi interaktif seperti realitas virtual. Dengan pendekatan ini, museum akan memperkuat spirit of place Kembang Jepun serta berkontribusi pada tujuan SDGs, terutama dalam bidang pendidikan berkualitas dan pengembangan komunitas berkelanjutan. Museum ini tidak hanya berperan sebagai sarana pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ruang publik inklusif yang mendorong apresiasi dan interaksi sosial antar generasi.

AUDREY RYUKA PUSPITA DARMOSUGONDO Altrerosje Asri, S.T., M.T. (Advisor 1); Wanda Widigdo Canadarma (Examination Committee 1); Esti Asih Nurdiah, S.T., M.T., Ph.D. (Examination Committee 2); Bram Michael Wayne, S.T., M.Ars. (Examination Committee 3); Agus Dwi Hariyanto (Examination Committee 4); Timoticin Kwanda (Examination Committee 5); Anik Juniwati (Examination Committee 6) Universitas Kristen Petra Indonesian Digital Theses Undergraduate Thesis Laporan Perancangan Arsitektur Laporan Perancangan Arsitektur No. 00024645/ARS/2025; Audrey Ryuka Puspita Darmosugondo (B12210018) ART MUSEUMS--DESIGNS AND PLANS; MUSEUM WAYANG--PICTORIAL WORKS

Files