Baru rasakan dapat uang setelah lima tahun

Sebagai bagian dari industri kreatif, buku komik termasuk belum mendapat tempat yang layak di tanah air. Meski demikian, sejumlah komikus lokal terus berjuang walaupun harus jatuh bangun menahan gempuran komik-komik asing. Salah satunya Ockto. Perjalanan Ockto dalam berkarya tidak ditempuh dengan mudah. Jatuh bangun dirasakannya sejak kali pertama memutuskan menekuni dunia komik sesaat sebelum lulus kuliah. Berawal dari prestasi menjadi juara pertama Pekan Komik Nasional 2006 yang diadakan UK Petra, Surabaya, Ockto langsung menancapkan cita-cita untuk menempuh jalan sepi sebagai komikus. Bersama dua rekannya sesama mahasiswa Desain Komunikasi Visual ITB, Bagus Seta dan Miftah Bayu, Ockto bertekad untuk tidakmencari pekerjaan dulu setelah lulus kuliah. Benar saja, setelah lulus pada 2007-2008, ketiganya kemudian berkonsentrasi menghasilkan karya- karya komik Mereka menjadikan kamar Ockto sebagai semacam workshop. Mulai Senin hingga Jumat rnereka bekerja keras di kamar yang dindihg-dindingnya dipenuhi poster komik tersebut. Tantangan mulai mereka hadapi ketika memasuki proses publikasi karya. Beberapa penerbit yang selama ini aktif mencetak komik-komik lokal sedang berhenti produksi. Industri komik Indonesia ketika itu sedang redup. Kami merasa seperti lulus kuliah di saat yang salah, kata dia. Melihat kenyataan seperti itu, Ockto cs akhirnya mencoba jalur indie. Komik Merdeka dicetak dan diedarkan sendiri. Mereka hanya mencetak sedikit, 500 eksemplar. Tapi, pekerjaan tersebut menguras tenaga, pikiran, danwaktu. Akibatnya, rencana penerbitan komik kedua terbengkalai. Jangan tanya balik modal atau tidak, karena sudah pasti tidak katanya sambil tersenyum.

Unknown Unknown PT Jawa Pos Koran Indonesian Petra Chronicle Newspaper clippings Unknown Jawa Pos, 25 November 2014 CREATIVE INDUSTRIES; COMIC BOOKS, STRIPS, ETC.

Files