Nangis dipanggil wong Chino

Tak banyak yang tahu bagaimana pedihnya hidup sebagai warga Tionghoa di Indonesia, termasuk pula di Surabaya. Lindayani, mahasiswi Jurusan Desain Komunikasi Visual Univeristas Kristen Petra, menuangkannya dalam sebuah penelitiannya tentang pandangan eksklusif terhadap warga Tionghoa di Surabaya. Lindayani masih sangat ingat jelas saat ia mampir ke kawasan Sunan Ampel untuk keperluan tugas akhir. Ia teringat saat diteriaki “ih ada China!”. Saat itu Lindayani merasa ciut. Ia bertanya-tanya kenapa dirinya sering diperlakukan aneh oleh warga local. Padahal ia sendiri asli Surabaya. Sejak saat itulah ia berharap akulturasi budaya yang saat ini tengah berlangsung bisa melenyapkan perbedaan yang ada. Namun kenyataan yang ia hadapi selama ini di Surabaya mulai ia dilahirkan hingga tumbuh jadi perempuan dewasa seperti sekarang ini ternyata tak seenak salad. Berbagai diskriminasi sosial telah ia alami, karena ia memang terlahir sebagai warga Tionghoa, Mulai dihina teman sekampung, dilempari batu dan diolok-olok sebagai wong Chino (orang China). Setiap saya mengalami perlakuan buruk seperti itu, hati kecil saya rasanya ingin menangis.

Unknown Unknown PT Media Delta Espe Indonesian Petra Chronicle Newspaper clippings Unknown Surabaya Post, 27 Agustus 2008 CHINESE--INDONESIA--IDENTITY; RACE DISCRIMINATION

Files